KISAH AIR MATA
Setiap daun menyimpan satu kejadian yang membuat hutan menangis. Kami hanya mengemasnya.
Konon, hutan menangis pertama kali ketika seekor burung lupa jalan pulang. Lalu menangis lagi saat musim berganti tanpa pamit. Sejak itu, hujan bukan sekadar cuaca β melainkan surat yang ditulis hutan untuk dirinya sendiri.
Kami berdiri di bawah rintik itu dengan teko kecil dan kesabaran besar. Setiap tetes kami tampung sebelum menyentuh tanah β agar sedihnya masih utuh, belum sempat jadi lumpur.
Hasilnya: teh yang tidak menghibur, tapi menemani. Karena kadang orang tidak butuh disemangati. Kadang orang hanya butuh diseduh.
CARA MENYEDUH
Empat langkah. Tidak ada yang bisa dihemat, apalagi perasaannya.
- Diam tiga menit sambil merenung.Teh perlu waktu untuk mengingat mengapa ia menangis. Kamu juga.
- Aduk searah jarum hati.Bukan jarum jam. Jarum hatimu sendiri. Kamu tahu arahnya.
- Jangan ditatap terlalu lama.Dia pemalu. Ditatap, dia menggumpal. Dibiarkan, dia jernih.
- Seruput pelan-pelan. Menangis opsional.Dianjurkan, sebenarnya. Tapi tidak wajib. Hutan tidak memaksa.
SURAT DARI HUTAN
Setiap bulan, hutan menitipkan keluh kesah. Kami lampirkan gratis.
βPohon-pohon bertanya, mengapa manusia terburu-buru melewati kami. Kami tidak marah. Hanya basah.
Kemarin seekor katak pindah ke daun sebelah tanpa berpamitan. Kami menangis semalaman. Paginya, katak itu kembali membawa tiga teman. Rupanya ia hanya menjemput mereka.
Begitulah. Sebagian kesedihan kami ternyata hanya kesalahpahaman yang belum selesai diseduh.β
β Hutan, dengan rintikLANGGANAN TANGISAN
Air mata bulanan, dikirim saat hujan pertama jatuh.
FORM BERLANGGANAN
Air mata pertamamu akan tiba pada hujan berikutnya.
Jangan buru-buru menyeduhnya. Dia baru saja menangis.